detik1.id // Di sebuah desa yang tenang, hiduplah seorang wartawan sebut saja Soni. Di mata masyarakat, Soni dikenal sebagai sosok yang lantang bersuara, kerap tampil seolah paling bersih, dan rajin mengkritik kesalahan orang lain. Melalui tulisannya, ia sering menempatkan diri sebagai penjaga moral dan penegak kebenaran.
Namun, citra yang dibangun Soni perlahan mulai dipertanyakan. Di balik sikapnya yang terlihat suci, tersimpan cerita lama yang tidak banyak diketahui orang. Beberapa tahun silam, lebih tepatnya tahun 2023, Soni pernah tersandung kasus narkoba, sebuah peristiwa yang sempat mengguncang lingkaran terdekatnya, meski tak pernah benar-benar terbuka ke ruang publik.
Kisah itu menjadi ironi tersendiri. Seseorang yang gemar menghakimi dan menuding pihak lain, ternyata pernah bergulat dengan persoalan serius dalam hidupnya sendiri. Bagi sebagian orang di desanya, hal tersebut menjadi pengingat bahwa tidak ada manusia yang benar-benar bersih, dan setiap orang memiliki masa lalu yang seharusnya menjadi bahan introspeksi, bukan alat untuk merasa paling benar.
Sebagai wartawan, Soni seharusnya memahami arti kejujuran dan integritas. Profesi jurnalistik bukan hanya soal menulis berita dan mengungkap kesalahan orang lain, tetapi juga tentang menjaga etika, rendah hati, dan bertanggung jawab atas diri sendiri.
Kisah Soni mengajarkan satu hal penting: kritik akan lebih bermakna jika disertai kejujuran dan kesadaran diri. Tanpa itu, sikap sok bersih hanya akan menjadi topeng rapuh yang mudah runtuh ketika kebenaran masa lalu kembali mengetuk.
















