Sumenep, detik1.co.id // Aktivis muda asal Pulau Raas, Nurifan Hairi, mempertanyakan belum optimalnya keterlibatan diaspora pengusaha asal Ra’as dalam pembangunan daerah.
Pulau Raas bukan sekadar titik koordinat di peta Kabupaten Sumenep, melainkan wilayah dengan potensi ekonomi yang besar dan sumber daya manusia yang tangguh. Namun demikian, kondisi di lapangan masih menunjukkan berbagai keterbatasan, mulai dari listrik yang kerap padam hingga infrastruktur jalan yang rusak selama bertahun-tahun.
Menurut Nurifan, kondisi tersebut seharusnya dapat diatasi jika terbangun sinergi antara pemerintah dan sektor swasta, khususnya para pengusaha sukses asal Raas yang kini tersebar di berbagai daerah.
Ia membandingkan dengan Pulau Sapudi, di mana para pengusaha daerah dinilai mulai aktif berkontribusi dalam pembangunan kampung halaman. “Ada rasa kontras ketika melihat Sapudi, di mana para pengusaha mulai dirangkul, didengar, dan dilibatkan dalam pembangunan,” ujarnya.
Sebaliknya, di Kecamatan Raas, ia melihat adanya stagnasi komunikasi antara pemerintah dengan para pengusaha diaspora, termasuk mereka yang telah sukses di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali.
“Momentum mudik Ramadhan seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai ruang dialog ekonomi. Namun yang terjadi, momen itu berlalu tanpa adanya forum konkret untuk membahas kemajuan Ra’as,” katanya.
Nurifan menilai, para pengusaha asal Ra’as memiliki keunggulan berupa jaringan, modal, dan fleksibilitas yang dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerah. Jika dikelola dengan baik, kontribusi tersebut dapat mendorong hilirisasi produk lokal, membuka lapangan kerja, serta mempercepat pembangunan infrastruktur.
Ia juga menawarkan sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan pemerintah kecamatan, antara lain:
1).Pembentukan database diaspora Ra’as untuk memudahkan koordinasi dan pemetaan potensi. 2).Digitalisasi forum komunikasi, seperti pembentukan grup aktif berbasis WhatsApp atau Telegram yang melibatkan pemerintah dan pengusaha. 3).Penyelenggaraan agenda tahunan “Ra’as Business Forum”, khususnya saat Ramadhan atau Idul Fitri, sebagai wadah dialog dan investasi. 4).Pemberian insentif dan kemudahan perizinan bagi pengusaha asal daerah yang ingin berinvestasi di kampung halaman.
Sebagai penutup, Nurifan menegaskan bahwa kemajuan Ra’as tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah daerah atau anggaran negara semata. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat, termasuk para pengusaha diaspora.
“Sudah saatnya pemerintah kecamatan tidak hanya menjadi penjaga kantor, tetapi aktif ‘menjemput bola’ demi kesejahteraan masyarakat Raas,” pungkasnya.
















