Berita  

Gus Lilur di Persimpangan Kritik dan Penghormatan Guru: “Selesai, Tunai, Tuntas

Foto: Ji Lilur

Situbondo, detik1.id // Di tengah polemik internal Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur menyampaikan pernyataan yang memadukan kritik tajam, penghormatan terhadap guru, dan kesiapan menghadapi pertarungan hukum.

Pernyataan bertajuk “Selesai, Tunai, Tuntas” itu dirilis setelah tulisan “NU, Gus Dur dan Bromocorah Politik” dipublikasikan. Bagi Gus Lilur, tulisan tersebut menjadi penanda bahwa kewajiban moralnya untuk menyampaikan pendapat telah ditunaikan.

“Apa yang harus disampaikan sudah saya sampaikan. Apa yang harus dijelaskan sudah saya jelaskan. Apa yang harus disuarakan sudah saya suarakan. Selesai,” tulisnya.

Namun, kata selesai yang disampaikan Gus Lilur ternyata bukan berarti seluruh persoalan telah berakhir. Ia masih menyisakan satu kemungkinan: membawa konflik ke ranah pidana.

### Warisan Nasihat Seorang Ayah

Di balik sikap kerasnya, Gus Lilur mengungkapkan nilai yang menjadi pertimbangannya untuk tidak terburu-buru menempuh jalur hukum. Nilai itu berasal dari nasihat ayahnya, seorang petani dusun yang juga pernah mengemban amanah sebagai Rois Syuriah MWC NU.

Sang ayah, menurut Gus Lilur, rutin mengajarkan kitab Ihya Ulumuddin setiap pekan. Dari sosok tersebut, ia memperoleh pelajaran tentang penghormatan kepada guru.

Gus Lilur mengutip pemahaman bahwa penghormatan kepada guru memiliki kemiripan dengan ungkapan selawat kepada Rasulullah, yakni menyertakan penghormatan kepada keluarga beliau. Dalam konteks tersebut, ia menyebut KH Bisri Syansuri, pendiri Pesantren Denanyar Jombang, sebagai sosok yang memiliki tempat khusus dalam perjalanan keilmuannya.

Karena pernah menimba ilmu di pesantren tersebut, Gus Lilur mengaku tetap mempertimbangkan hubungan historis dan keilmuan itu ketika berhadapan dengan pihak yang dikritiknya. Baginya, kritik terhadap seseorang tidak serta-merta menghapus penghormatan terhadap guru dan tradisi keilmuan yang menjadi bagian dari sejarah hidupnya.

Baca Juga:
Ber-NU Tanpa Ber-PBNU! Sabda Gus Lilur di Tengah Dinamika Internal NU

### Menjaga NU Tanpa Membungkam Kritik

Gus Lilur juga mengungkapkan bahwa empat orang telah berkomunikasi intensif dengannya selama tiga hari terakhir. Mereka, menurutnya, memiliki agenda yang sama, yakni menjaga NU. Pesan yang disampaikan kepadanya adalah agar kritik yang disuarakan tidak berujung pada keretakan organisasi.

Gus Lilur menyebut terdapat kesepahaman mengenai perlunya mengungkap dugaan suap dan jual beli suara dalam Muktamar ke-35 NU. Namun, setelah persoalan tersebut diungkap, dirinya diminta untuk menepi.

Ia kemudian mengajukan tiga persyaratan.

Pertama, pengunduran diri Rais Aam yang dikritiknya. Kedua, pengembalian uang yang menurutnya berasal dari praktik suap kepada KPK oleh pihak-pihak yang disebutnya menerima. Ketiga, tidak adanya langkah pidana dari pihak yang berseberangan dengannya.

Syarat-syarat tersebut menunjukkan bahwa bagi Gus Lilur, menjaga NU tidak harus dimaknai sebagai menghentikan kritik. Sebaliknya, ia memandang pengungkapan dugaan penyimpangan sebagai bagian dari upaya menjaga marwah organisasi.

Meski demikian, tudingan mengenai suap dan jual beli suara tersebut tetap membutuhkan pembuktian serta ruang klarifikasi bagi pihak-pihak yang disebut.

### Ketika Kritik Berhadapan dengan Proses Hukum

Bagian paling keras dari pernyataan Gus Lilur muncul ketika ia menyampaikan kesiapan menghadapi proses pidana. Ia menyatakan bahwa apabila dirinya lebih dahulu dipidanakan, dirinya akan mempertimbangkan langkah hukum terhadap sejumlah tokoh yang disebut dalam pernyataannya.

Tantangan terbuka yang disampaikan kepada Ipul memperlihatkan bahwa Gus Lilur tidak menutup kemungkinan terjadinya eskalasi konflik. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa penghormatan kepada guru bukan berarti kesediaan untuk menerima segala tindakan tanpa perlawanan.

### PAMANGKAR: Jalan Pengabdian yang Dipilih

Gus Lilur menutup pernyataannya dengan menegaskan identitas PAMANGKAR, yakni Pejuang Amar Makruf Nahiy Mungkar. Ia memaknai identitas tersebut sebagai panggilan ibadah, berlandaskan Surah Ali Imran ayat 104 dan ajaran Rasulullah.

Baca Juga:
Koramil 0827/20 Sapudi Kawal Program Gratis Balik Santri ke Pesantren

Dalam pandangannya, perjuangan amar makruf nahi mungkar tidak semestinya berhenti hanya karena adanya tekanan atau ancaman. Ia menyatakan lebih memilih kecintaan Allah dan Rasulullah daripada pujian dari pihak-pihak yang menurutnya tidak konsisten menjaga nilai-nilai perjuangan.

“Tidak semua santri NU bisa diintimidasi. Tidak semua kiai NU bisa ditakut-takuti,” demikian pesan penutupnya.

Pernyataan Gus Lilur memperlihatkan ketegangan antara tiga hal yang sama-sama ia klaim sebagai prinsip: keberanian menyampaikan kritik, penghormatan kepada guru, dan komitmen menjaga NU.

Di tengah ketiganya, satu pesan yang ingin ditegaskannya cukup jelas: ia menyatakan telah menuntaskan penyampaian sikap, tetapi belum menutup kemungkinan membawa persoalan ke ranah hukum.