Berita  

Menjaga Marwah, Menolak Gerus: Gugatan Gus Lilur Menjelang Muktamar NU

Ket. Foto Ji Lilur Bersama Menteri Agama RI

Situbondo, detik1.id // Di ambang perhelatan akbar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), sebuah kegelisahan mendalam menyeruak dari akar rumput nahdliyin. Adalah HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, atau yang akrab disapa Gus Lilur, yang dengan lantang menyuarakan alarm peringatan bagi organisasi Islam terbesar di dunia ini.

Bagi Gus Lilur, muktamar kali ini bukanlah sekadar rutinitas administratif lima tahunan, melainkan sebuah “ujian sejarah” untuk menentukan arah kompas NU: kembali ke pangkuan ulama atau kian tenggelam dalam pusaran politik praktis.

“NU didirikan oleh para ulama besar dengan fondasi ilmu dan akhlak, bukan untuk menjadi alat kepentingan kekuasaan,” tegas Gus Lilur dalam sebuah sesi wawancara mendalam. Ia menilai, saat ini tengah terjadi pergeseran orientasi yang mengkhawatirkan, di mana wajah organisasi kian hari kian kental dengan nuansa pragmatisme politik.

Gus Lilur menyoroti dinamika internal yang menurutnya kian mengaburkan jati diri jam’iyah. Munculnya figur-figur yang lekat dengan panggung politik seperti Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf, hingga kepemimpinan Yahya Cholil Staquf, disebutnya sebagai bagian dari realitas yang harus dievaluasi secara terbuka.

Ia tidak melihat ini sebagai persoalan personal, melainkan masalah marwah. Gus Lilur menyayangkan fenomena yang ia istilahkan sebagai “gus-gus nanggung”—individu yang menggunakan legitimasi NU demi kepentingan pribadi dan jejaring kekuasaan, alih-alih memperkuat basis keilmuan dan kaderisasi.

“Kita punya tradisi besar, punya pesantren, punya bahtsul masail. Tapi kenapa justru yang tampil sering kali bukan yang paling alim, melainkan yang paling dekat dengan kekuasaan?” gugatnya retoris.

Di mata Gus Lilur, NU sebenarnya sedang mengalami “anomali kepemimpinan.” Padahal, stok figur yang memiliki kedalaman kitab dan intelektualitas tinggi sangat melimpah. Ia menyebut deretan nama yang ia anggap kredibel untuk membawa NU kembali ke khitah keulamaannya.

Baca Juga:
Polairud Polda Jatim Lakukan Silaturahmi dan Tinjau Program Kampung Nelayan Merah Putih di Sumenep

“Kalau bicara kualitas, kita punya Nasaruddin Umar, Said Aqil Siradj, Abdus Salam Shohib, Yusuf Chudlory, Zulfa Mustofa, hingga Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Mereka jelas kapasitas keulamaannya. NU ini kaya tokoh, jangan sampai yang tampil hanya ‘itu-itu saja’ karena faktor politik,” paparnya.

Pesan Gus Lilur kepada para peserta muktamar sangat terang: miliki keberanian moral untuk memutus rantai haus kekuasaan. Ia mendesak agar mereka yang ingin berpolitik praktis sebaiknya berjuang di jalur partai, tanpa menyeret-nyeret institusi NU.

Baginya, independensi adalah harga mati. Jika NU kehilangan jarak dengan kekuasaan, maka peran strategisnya sebagai penjaga moral bangsa akan tergerus. Ia mendorong Muktamar untuk mengembalikan fokus pada penguatan ekosistem intelektual, mulai dari penguatan tradisi pesantren hingga revitalisasi bahtsul masail yang relevan dengan tantangan zaman.

“Kalau NU kuat di ilmu, otomatis akan dihormati. Tapi kalau NU sibuk di politik, lama-lama hanya akan diperalat,” pungkasnya.

Kini, bola panas ada di tangan para kiai dan utusan muktamar. Akankah Muktamar NU menjadi ajang kembalinya supremasi ulama, atau justru melegitimasi dominasi politik di dalam tubuh organisasi? Sebuah pertaruhan besar bagi masa depan nahdliyin tengah dimulai.

error: