Ironis! Karnaval Daur Ulang Sampah, tetapi Kostumnya Justru dari Plastik Baru

Foto: Salam Kempul Pemerhati Lingkungan Asal Desa Kalowang

Sumenep, detik1.id // Semangat kampanye peduli lingkungan kembali menjadi sorotan. Sebuah karnaval yang mengusung tema daur ulang sampah dan melibatkan peserta dari kalangan siswa SD, SMP, SMA hingga masyarakat umum dinilai menyisakan pertanyaan serius.

Pasalnya, material yang digunakan untuk membuat sejumlah kostum dalam kegiatan tersebut disebut justru berasal dari plastik baru yang dibeli, bukan dari barang bekas yang dimanfaatkan kembali.

Kondisi itu memunculkan ironi. Sebuah kegiatan yang semestinya menjadi ruang edukasi mengenai pengurangan dan pemanfaatan sampah justru berpotensi memberikan pesan yang bertolak belakang kepada peserta maupun masyarakat yang menyaksikan.

Pemuda pemerhati lingkungan, Salam Kempul, menilai persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai bentuk atau keindahan kostum. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah pesan edukasi lingkungan yang dibawa oleh kegiatan tersebut.

“Ini bukan sekadar persoalan kostum bagus atau tidak. Ini menyangkut pesan yang disampaikan kepada masyarakat, terutama anak-anak dan pelajar. Kalau semua menggunakan plastik baru, lalu apa yang sebenarnya sedang kita daur ulang?” ujar Salam.

Menurut dia, keterlibatan peserta dari berbagai jenjang pendidikan membuat persoalan tersebut menjadi semakin penting untuk dikritisi.

Anak-anak dan pelajar, kata Salam, tidak hanya melihat hasil akhir sebuah karnaval, tetapi juga belajar dari proses dan praktik yang mereka saksikan.

“Di satu sisi kita berbicara tentang mengurangi sampah plastik. Di sisi lain, untuk sebuah karnaval bertema daur ulang, plastik baru justru digunakan secara massal. Jangan sampai yang didaur ulang hanya istilahnya, sementara plastiknya tetap baru,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut memperlihatkan adanya jarak antara slogan kepedulian terhadap lingkungan dengan praktik di lapangan.

Menurutnya, kegiatan bertema lingkungan seharusnya tidak berhenti pada penggunaan istilah “daur ulang”, tetapi benar-benar menerapkan prinsip pemanfaatan kembali barang yang sudah tidak terpakai.

Baca Juga:
Diduga Abaikan Standar Pekerjaan, Proyek P3-TGAI di Desa Battal Disorot LSM Teropong

“Anak SD, SMP, SMA sampai masyarakat umum melihat langsung kegiatan ini. Mereka bukan hanya melihat kostum, tetapi juga belajar dari praktiknya. Kalau praktiknya membeli plastik baru untuk kemudian dijadikan kostum, pesan lingkungannya menjadi tanda tanya besar,” ujarnya.

Ia menegaskan, penggunaan material baru untuk membuat kostum tidak serta-merta dapat disebut sebagai kegiatan daur ulang.

“Kalau semua bahannya baru, jangan kemudian kita bangga menyebutnya sebagai daur ulang. Daur ulang bukan sulap. Plastik baru tidak otomatis menjadi barang daur ulang hanya karena dipotong, dibentuk, lalu dipakai sebagai kostum,” tegasnya.

Kritik tersebut sejatinya bukan berarti menolak kegiatan karnaval maupun kreativitas peserta. Sebaliknya, kegiatan semacam itu justru dapat menjadi sarana edukasi lingkungan yang efektif apabila konsepnya benar-benar diterapkan.

Kostum dapat dibuat dari botol plastik bekas, kemasan makanan, kardus, koran, kantong bekas, tutup botol, maupun berbagai material yang sudah tidak digunakan.

Dengan demikian, kreativitas peserta sekaligus memiliki nilai edukasi karena masyarakat dapat melihat secara langsung bagaimana barang yang sebelumnya dianggap sampah diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.

Salam berharap kegiatan bertema lingkungan ke depan tidak sekadar mengedepankan kemeriahan dan tampilan visual, tetapi juga konsisten dengan pesan yang ingin disampaikan.

“Jangan sampai kita membuat karnaval tentang menyelamatkan lingkungan dengan cara yang justru menambah barang yang berpotensi menjadi sampah. Kalau begitu, yang dipertontonkan bukan semangat daur ulang, tetapi kontradiksi lingkungan yang dikemas meriah,” pungkasnya.

Pada akhirnya, persoalan ini menjadi bahan refleksi. Jika sebuah karnaval mengajarkan masyarakat untuk mengurangi sampah, maka pertanyaan sederhananya adalah: apakah bahan yang digunakan benar-benar berasal dari sampah yang dimanfaatkan kembali, atau justru dari produk baru yang kemudian berpotensi menjadi sampah?

Baca Juga:
Catur Politik Menuju Muktamar NU ke-35: Aroma "Paslon" di Balik Layar

Sebab, kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya soal apa yang tertulis di spanduk atau tema kegiatan, melainkan tentang sejauh mana pesan tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata.

Oleh: Salam Kempul Pemerhati Lingkungan Asal Desa Kalowang