Senioritas Yang Mengubah Kesepakatan Menjadi Kegaduhan

Ket. Foto Holib Rahman

Sumenep, detik1.id // Dalam sebuah ladang yang dikelola secara bersama, Ali merasa dirinya bukan sekadar petani biasa. Ia meyakini telah lebih lama terlibat, lebih banyak menyaksikan pergantian musim, dan karena itu merasa lebih memahami bagaimana ladang seharusnya diatur.

Dari keyakinan tersebut lahir sebuah pandangan yang kerap muncul dalam berbagai ruang kolektif: pengalaman dianggap sebagai legitimasi.

Berbekal pengalamannya, Ali tidak hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga mulai memasuki ruang pengelolaan dengan keyakinan bahwa pemahamannya cukup untuk mengoreksi arah yang telah disepakati bersama.

Namun, ladang bukanlah ruang tunggal yang dapat diatur berdasarkan pengalaman pribadi semata. Ladang hidup dari kesepakatan yang, meskipun tidak selalu sempurna, dibangun untuk menjaga ritme kerja dan kepentingan banyak orang.

Ketika satu pihak mulai mengguncang batas-batas yang telah disepakati, dampaknya tidak pernah berhenti pada satu titik. Perdebatan pun meluas, sementara petak-petak yang sebelumnya berjalan dalam ketenangan ikut terseret dalam kegaduhan. Mereka yang tidak pernah dimintai pendapat justru menjadi pihak yang paling terdampak.

Pada titik inilah alasan seperti “saya lebih senior” atau “saya lebih memahami sistem” berubah dari sekadar pandangan menjadi alat legitimasi yang sulit diuji. Padahal, dalam sistem kolektif, lamanya keterlibatan tidak serta-merta memberikan hak untuk melangkahi mekanisme yang telah disepakati bersama.

Ironisnya, tindakan yang diklaim sebagai bentuk koreksi justru berpotensi menimbulkan gangguan baru ketika tidak lahir dari ruang musyawarah dan konsensus. Alih-alih memperbaiki sistem, langkah tersebut dapat memunculkan gesekan yang melemahkan stabilitas yang telah terbangun.

Pertanyaan yang kemudian muncul sederhana, tetapi tidak mudah dijawab: ketika Ali mengguncang ladang atas nama pengalaman, apakah ia benar-benar sedang memperbaiki sistem, atau justru menguji batas-batas kesepakatan tanpa mandat bersama?

Baca Juga:
Tips Menjadi Pasangan Serasi: Membangun Hubungan Harmonis dan Langgeng

Sebab, sebuah ladang tidak pernah runtuh hanya karena perbedaan pandangan. Ia mulai retak ketika pengalaman dijadikan alasan untuk berdiri di atas kesepakatan yang telah ditanam dan dirawat bersama oleh banyak orang.

Oleh: Holib Rahman

Penulis: Tim/RedEditor: Benny.H