Berita  

Dari Manila untuk Nusantara: Misi HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy Membangun Imperium Kaisar Rokok Dunia

SITUBONDO – Di balik jendela Kamar 1210 Hotel Sheraton Manila Bay, sebuah cetak biru besar bagi industri tembakau Indonesia baru saja tuntas dirumuskan. Pada Minggu, 15 Maret 2026, pukul 12.24 waktu setempat, HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Founder sekaligus Owner BARONG GRUP (Bandar Rokok Nusantara Global Grup), secara resmi memancangkan tonggak sejarah baru dalam karier bisnisnya.

Bukan sekadar ekspansi biasa, Khalilur membawa visi yang memadukan kekuatan korporasi raksasa dengan pemberdayaan ekonomi rakyat. “Saya ingin memastikan tidak ada lagi WNI yang tidak bangga menjadi warga negara Indonesia. Saatnya petani tembakau kaya, saatnya rokok Indonesia berjaya,” tegasnya dalam pernyataan tertulis yang diterima media.

Langkah awal Khalilur dimulai dengan penguatan legalitas dan infrastruktur. Saat ini, ia telah mengonsolidasikan bisnisnya ke dalam tiga entitas induk utama: Perusahaan Rokok, Perusahaan Tembakau, dan Perusahaan Distribusi.

Di sektor produksi rokok, enam induk perusahaan telah disiapkan, di antaranya:
* Rokok Bintang Sembilan (RBS)
* Bandar Rokok Nusantara (BARON)
* Joko Tole Nusantara (JOLENTARA)
* Madura Tembakau Nusantara (MADANTARA)
* Bandar Rokok Nusantara Global (BARONG)
* Madura Indonesia Tembakau (MASAKU)

Lima dari perusahaan tersebut telah merampungkan aspek legalitas, bahkan salah satunya telah memiliki pabrik lengkap dengan infrastruktur produksinya. Sementara itu, di lini suplai dan logistik, ia mengandalkan Nusantara Global Tobacco (NGO), Bandar Tembakau Indonesia (BAKAU), serta perusahaan distribusi Angkut Barang Seluruh Nusantara (ABANG SETARA).

Yang membedakan visi Khalilur dengan pengusaha murni lainnya adalah keberpihakannya pada skala mikro. Ia merancang skema kolaborasi unik yang ia sebut sebagai perpaduan “Usaha Rakyat dan Usaha Konglomerat”.

Rencananya, ekspansi besar-besaran akan menyasar 17 Kabupaten di tiga provinsi utama: Jawa Timur, Jawa Tengah, dan NTB. Di wilayah-wilayah ini, Khalilur akan membangun:
* 17 Gudang Tembakau Raksasa sebagai pusat penyerapan hasil tani.
* 19 Pabrik Rokok Skala Internasional (termasuk di Sidoarjo dan Malang).
* 2.000 Unit UMKM Pabrik Rokok, yang masing-masing akan mempekerjakan 20 karyawan.

Baca Juga:
Korban Penipuan Modus PNS Apresiasi Polres Sumenep, Oknum LSM Segera Masuk DPO

“Jika saya membangun dan membina 2.000 UMKM ini, maka akan ada 40.000 tenaga kerja yang terserap,” ungkapnya. UMKM ini nantinya akan difokuskan pada produksi manufacturing (maklun) enam jenis kretek dengan racikan khas daerah, mulai dari Virginia Blend (Lombok) hingga Srintil Blend (Temanggung).

Melalui BARONG GRUP, Khalilur bermimpi melahirkan “Kaisar Rokok Dunia” yang lahir dari rahim Republik Indonesia. Baginya, bisnis bukan sekadar angka keuntungan, melainkan instrumen untuk mendistribusikan kesejahteraan.

“Ini bukan sekadar obrolan pengusaha murni. Saya berdoa agar Sang Pemilik Alam Semesta menitipkan rezeki miliaran hamba-Nya di tangan saya,” pungkasnya penuh optimisme.

Dengan tuntasnya rancangan strategi di Manila ini, langkah Khalilur kini beralih dari persiapan legalitas menuju eksekusi lapangan. Sebuah ambisi yang tidak hanya mengejar kejayaan merek, tetapi juga kedaulatan para petani tembakau di tanah air.