Situbondo, detik1.id // Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026, dinamika internal organisasi menunjukkan eskalasi yang signifikan. Sejumlah manuver politik mulai terbaca di ruang publik, baik dalam bentuk pencalonan diri maupun pengusungan figur-figur tertentu oleh berbagai kelompok kepentingan di internal NU.
Menariknya, pola kontestasi dalam Muktamar kali ini mulai mengerucut pada format berpasangan antara calon Ketua Umum dan calon Rais Aam. Format ini, yang dalam istilah politik populer disebut sebagai “pasangan calon” atau paslon, memperlihatkan adanya konsolidasi kekuatan yang tidak lagi berjalan secara tunggal, melainkan dalam paket kepemimpinan.
Secara formal, posisi Rais Aam memang dipilih melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Namun dalam praktiknya, komposisi AHWA kerap kali dipengaruhi oleh relasi kekuatan dan kepentingan politik organisasi yang melibatkan para kandidat utama, baik untuk posisi Rais Aam maupun Ketua Umum.
Berdasarkan pemantauan dinamika yang berkembang, setidaknya terdapat beberapa poros utama yang mulai terbentuk. Ketua Umum petahana Yahya Cholil Staquf, misalnya, saat ini disebut tengah menjajaki sejumlah nama untuk dipasangkan sebagai calon Rais Aam guna memperkuat basis dukungan dan legitimasi.
Sementara itu, Rais Aam petahana Miftachul Akhyar berada dalam satu konfigurasi dengan Sekretaris Jenderal Saifullah Yusuf. Keduanya dilaporkan tengah mencari figur yang akan diusung sebagai calon Ketua Umum dalam kontestasi mendatang.
Di sisi lain, muncul pula nama Menteri Agama Nazaruddin Umar yang disebut-sebut mendapat dukungan dari kekuatan penguasa. Hingga kini, Nazaruddin masih dalam proses menjajaki pasangan yang akan diusung untuk posisi Rais Aam.
Poros lain datang dari jaringan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan IKA PMII. Dalam kelompok ini, sejumlah nama seperti KH Abdussalam Shohib, KH Yusuf Chudhori, KH Imam Jazuli, hingga KH Abdul Ghoffar Rozin masih bersaing dalam kontestasi internal untuk posisi Ketua Umum. Namun untuk posisi Rais Aam, dukungan relatif mengerucut pada Said Aqil Siradj.
Selain itu, terdapat pula poros yang didorong oleh jejaring PWNU Jawa Timur dengan mengusung KH Abdul Hakim Mahfuz sebagai kandidat Ketua Umum. Poros ini masih dalam tahap penjajakan untuk menentukan pasangan di posisi Rais Aam.
Figur alternatif lainnya yang juga mencuat dari Jawa Timur adalah KH Marzuki Mustamar. Berbeda dengan poros sebelumnya, konfigurasi ini disebut lebih jelas dengan mengarah pada dukungan kepada Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam.
Peta Kekuatan Suara
Jika dilihat dari aspek kekuatan suara, kontestasi Muktamar NU ke-35 diperkirakan akan berlangsung ketat. Jaringan PKB–IKA PMII disebut memiliki sekitar 250 suara secara nasional. Sementara jaringan yang beririsan dengan Kementerian Agama diperkirakan menguasai sekitar 130 suara.
Adapun basis dukungan Ketua Umum petahana diperkirakan berada di kisaran 20 persen atau sekitar 100 suara. Sementara Rais Aam petahana bersama Sekjen juga memiliki basis kekuatan yang relatif setara, yakni sekitar 100 suara. Di luar itu, terdapat sekitar 70 hingga 80 suara yang masih mengambang dan berpotensi menjadi penentu.
Dalam peta tersebut, peluang terbesar secara matematis berada pada poros PKB–IKA PMII. Kekuatan ini akan semakin dominan jika mampu membangun koalisi dengan jaringan Kementerian Agama, yang secara akumulatif dapat menghasilkan dukungan hingga sekitar 400 suara.
Namun demikian, potensi koalisi tersebut masih menghadapi sejumlah kendala. Di satu sisi, Nazaruddin Umar memiliki kepentingan untuk maju sebagai Ketua Umum, sementara di sisi lain, jaringan PKB–PMII juga memiliki ambisi untuk mengusung kader internal mereka sendiri.
Skenario kompromi pun menjadi kunci. Salah satu kemungkinan yang mencuat adalah skema di mana PKB–PMII mengalah pada posisi Ketua Umum dan memberikan dukungan kepada Nazaruddin Umar, dengan imbalan posisi Rais Aam bagi Said Aqil Siradj.
Jika skenario ini terwujud dan mendapatkan restu dari tokoh-tokoh kunci seperti Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid, maka peta kontestasi diperkirakan akan mengerucut lebih cepat.
Potensi Poros Tandingan
Meski demikian, dinamika Muktamar NU selama ini dikenal cair dan sulit diprediksi. Kekuatan petahana tetap menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Yahya Cholil Staquf, misalnya, berpotensi membangun poros tandingan dengan menggandeng figur seperti KH Asep Saifuddin Chalim atau Ma’ruf Amin sebagai calon Rais Aam.
Selain itu, kemungkinan munculnya pasangan alternatif lain juga terbuka, seperti KH Zulfa Mustofa yang berpotensi berpasangan dengan Miftachul Akhyar, maupun konfigurasi dari Jawa Timur yang mempertemukan KH Marzuki Mustamar dengan Ma’ruf Amin.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan krusial: apakah para kandidat dalam jaringan PKB–IKA PMII bersedia mengalah demi koalisi besar, atau justru tetap mempertahankan ambisi masing-masing? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan arah kontestasi.
Menjaga Kemandirian Organisasi
Di tengah tarik-menarik kepentingan tersebut, isu kemandirian NU kembali menjadi sorotan. Sejumlah kalangan mengingatkan pentingnya menjaga organisasi dari intervensi kekuasaan, mengingat pengalaman masa lalu menunjukkan dampak negatif dari keterlibatan politik praktis yang berlebihan.
Muktamar ke-35 diharapkan tidak hanya menjadi arena perebutan kekuasaan, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kembali jati diri NU sebagai organisasi keagamaan yang mandiri dan berdaulat.
Sebagai salah satu pilar penting dalam sejarah bangsa, NU dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk tetap menjaga integritas dan independensinya di tengah dinamika politik nasional.
Dengan berbagai kemungkinan konfigurasi yang masih terbuka, arah kepemimpinan NU ke depan akan sangat ditentukan oleh keputusan yang diambil dalam forum Muktamar. Publik pun menantikan apakah proses ini akan melahirkan kepemimpinan yang mampu menjaga marwah organisasi sekaligus menjawab tantangan zaman.
Oleh: HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy (Warga NU, Kyai Kampung)
















