Pawai budaya yang dimulai pukul 14.30 WIB tersebut mengambil titik pemberangkatan dari Gerbang MTs Kyai Mas dan berakhir di Lapangan Belakang Koramil Prajekan. Kegiatan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekaligus bentuk apresiasi terhadap kekayaan seni dan tradisi lokal.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Prajhegghân Bersholawat pada pukul 19.00 WIB di lokasi yang sama, dengan melibatkan para alim ulama dan majelis hadrah.
PRAFEST 2026 berlangsung selama sepekan, mulai 25 hingga 31 Oktober 2026. Festival yang dipusatkan di Lapangan Belakang Koramil Prajekan tersebut menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari lebih dari 20 stan UMKM, pameran bonsai, lomba fashion batik kasual, lomba tari kreasi Nusantara, hingga pertunjukan kesenian tradisional seperti ketoprak dan daul.
Mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan, festival ini digagas sebagai upaya menghidupkan kembali seni tradisi sekaligus memperkenalkan Prajekan sebagai salah satu gerbang budaya di wilayah timur Kabupaten Bondowoso.
Sejumlah kesenian lokal, seperti kentrongan, kadhisah, ludruk hingga ketoprak, turut dihadirkan sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya yang keberadaannya mulai jarang dijumpai di tengah masyarakat.
Salah satu panitia festival, Muhammad Herdiansyah atau akrab disapa Dede, mengatakan bahwa keterlibatan generasi muda menjadi salah satu fokus utama dalam penyelenggaraan PRAFEST 2026.
Menurutnya, festival ini tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan seni, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk mengambil peran nyata dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah.
“Kami ingin Gen Z menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya. Mereka bukan hanya penonton, tetapi menjadi pelaku utama yang menggerakkan kegiatan ini. Karena itu, kami mengajak komunitas Nakkanak Prajegen untuk terlibat langsung dalam penyelenggaraan festival,” ujarnya.
Dede berharap, Prajhegghân Festival tidak hanya menjadi agenda hiburan dan pertunjukan seni semata, tetapi juga menjadi momentum untuk membangkitkan kembali kecintaan serta kebanggaan masyarakat terhadap identitas budaya daerah.
Melalui keterlibatan berbagai elemen masyarakat, khususnya generasi muda, PRAFEST diharapkan mampu menjadi ruang regenerasi seniman sekaligus menjaga agar kesenian tradisional Prajekan tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
















